Cerita ku :

๐Ÿ—“๏ธ ๐“๐ข๐ฆ๐ž๐ฅ๐ข๐ง๐ž & ๐‚๐ก๐ซ๐จ๐ง๐ข๐œ๐ฅ๐ž๐ฌ
๐ŸŽ๐Ÿ:๐ŸŽ๐ŸŽ ๐–๐ˆ๐ // Leaving Home
Membelah keheningan dini hari, memulai perjalanan dari rumah saat udara luar lagi dingin-dinginnya.

๐ŸŽ๐Ÿ‘:๐Ÿ๐ŸŽ ๐–๐ˆ๐ // The Ascent Begins
Langkah pertama dimulai di bawah langit gelap. Menghadapi jalur ikonik Prau yang langsung menyapa tanpa basa-basi.

๐ŸŽ๐Ÿ“:๐Ÿ“๐ŸŽ ๐–๐ˆ๐ // Sunrise Camp Attained
Kurang dari jam 6 pagi, akhirnya kaki ini menapak di hamparan rumput Sunrise Camp. Tepat waktu untuk menyambut fajar.

๐Ÿ‘ฅ The Partner
Pendakian kali ini terasa lebih personal dan berkesan. Cuma berdua, aku dan satu temanku. Nggak perlu rombongan banyak, karena satu teman yang tepat sudah cukup buat saling menguatkan sepanjang jalur, terutama pas badanku mulai protes di tengah jalan.

๐Ÿ“ ๐Œ๐ฒ ๐“๐ก๐จ๐ฎ๐ ๐ก๐ญ๐ฌ: Conquering Sewu Ondo
"Katanya Prau itu gunung sejuta umat yang santai. Tapi buat pemula, Sewu Ondo sukses bikin kaget!"

Secara keseluruhan, Prau emang ramah dan jalurnya relatif pendek, cocok banget buat pemula kayak aku. Tapi jujur, medan di jalur yang bener-bener isinya tangga tanah terus-terusanโ€”yang biasa disebut Sewu Ondoโ€”itu sempat bikin badanku kaget. Perjalanan kali ini penuh perjuangan karena lengan dan kakiku sempat kram beberapa kali pas lagi nanjak di tangga-tangga itu.

Karena kondisi fisik yang kurang kompromi, akhirnya aku memutuskan untuk stay dan menikmati suasana di sunrise camp aja, gak lanjut sampai ke puncak tertingginya. But you know what? It was still visual heaven. Lelahnya ngelewatin Sewu Ondo langsung kebayar lunas begitu lihat langit fajar di depan mata.